Asal-usul penentuan jam berkembang melalui beberapa tahap panjang dalam sejarah ilmu waktu:
- Zaman kuno: matahari sebagai acuan
- Peradaban Mesir, Babilonia, dan Cina memakai gnomon (tongkat tegak) untuk membaca panjang bayangan.
- Dari sini lahir jam matahari (sundial), yang membagi siang menjadi 12 bagian.
- Angka 12 dipilih karena tradisi Babilonia yang memakai sistem perhitungan seksagesimal (basis 60).
- Pembagian 24 jam
- Orang Mesir membagi siang 12 jam dan malam 12 jam, total 24 jam.
- Pembagian ini kemudian dipakai Yunani dan Romawi, lalu menjadi standar global.
- Menit dan detik
- Babilonia menggunakan sistem 60, sehingga ahli astronomi Yunani—terutama Hipparchus dan kemudian Ptolemy—mengubah pembagian waktu astronomi menjadi:
- 1 jam = 60 menit
- 1 menit = 60 detik
- Awalnya ini dipakai untuk astronomi, bukan jam sehari-hari.
- Babilonia menggunakan sistem 60, sehingga ahli astronomi Yunani—terutama Hipparchus dan kemudian Ptolemy—mengubah pembagian waktu astronomi menjadi:
- Jam mekanik (abad 13–14 M)
- Muncul di Eropa dengan mekanisme roda gigi dan escapement.
- Untuk pertama kali manusia memiliki waktu yang berjalan dengan kecepatan konstan tanpa tergantung matahari.
- Jam pendulum (1656)
- Dibuat oleh Christiaan Huygens.
- Akurasi waktu meningkat drastis, membuat pembagian menit dan detik masuk ke penggunaan sehari-hari.
- Zona waktu modern (akhir abad 19)
- Ditentukan pada Konferensi Meridian Internasional (1884).
- Meridian Greenwich (GMT) dipilih sebagai titik nol.
- Zona waktu disusun berdasarkan 24 wilayah 15 derajat.
- Standar detik atom (1955–sekarang)
- Jam atom berbasis vibrasi atom cesium menjadi dasar SI second.
- Akurasinya sangat tinggi (deviasi < 1 detik dalam jutaan tahun).
- Sistem ini dipakai dalam GPS, satelit, dan jaringan telekomunikasi.
Inti:
Penentuan jam lahir dari pengamatan matahari → pembagian Babilonia berbasis 60 → jam mekanik → jam atom sebagai standar global modern.